Fatamorgana Senja di UPI Bandung

 Judul Cerpen               : Fatamorgana Senja di UPI Bandung

Tempat                        : Bandung, 11 April 2017

Penulis                         : Fajriansyah Muhamad

Tokoh Yang dikenang : Devi Yunita, Senja, Jalan Sepi, Wisuda, Aku yang Merindu,Kursi dan Lapangan tempat berlatih

 

Siang itu di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, di jalan Setiabudi No.229 Bandung.

Siang itu UPI Terlihat begitu lenggang, tidak seperti hari – hari biasanya. Mungkin karena besok lusa semua fakultas di UPI akan melaksanakan Wisuda  Pelepasan Mahasiswa Tingkat Akhir.

Lalu – lalang para Mahasiswa tidak seperti biasanya.  Hanya satu- dua mahasiswa yang terlihat sibuk membawa buku – buku tebal dan sampel – sampel skripsi yang begitu banyak dan adapula mahasiswa yang sibuk mengejar Dosen pembimbingnya masing – masing.

Saat itu UPI terasa seperti Hutan Pinus di Lembang. Hening dan sepi. Menyisakan suara – suara lirih mahasiswa di jalan ini, menyisakan demonstran – demonstran kritis di setiap kelas – kelas ini, dan menyisakan sebuah nama.  Nama yang dulu pernah menghidupi duniaku di tempat ini.

Aku duduk di sisi lapangan. Di sebuah bangku yang biasa di pakai untuk para atlet beristirahat melepas lelah. Begitupula denganku. Lelah sekali rasanya. Setelah lima belas kali memutari lapangan ini. Lapangan yang selalu menjadi tempat paling indah di UPI. Karena di situ aku dan kamu sudah tidak ada lagi jarak yang memisahkan kebersamaan kita. Bersama ranum senja, dengan jingganya yang indah di setiap sore.

Entah mengapa, aku masih saja betah duduk di kursi ini. Kursi yang selalu menjadi tempat favoritku di kala senja telah menyapa. Apa  karena kenang atau karena tak pernah rela meninggalkanya sendiri, setiap hari di lapangan ini.

Mungkin aku duduk di sini untuk yang terakhir kalinya. Untuk salam perpisahan antara aku, kamu dan kenangan: bersamanya disini. Karena lusa depan aku akan di wisuda. Dan itu berarti aku akan meninggalkanmu disini bersama kenangan. Dan mungkin nanti setelah aku diresmikan, aku akan kembali kesini untuk yang terakhir kalinya. Untuk memelukmu bersama rindu.

Maka dari itu aku ingin berlama – lama sore ini. Karena lelahku juga masih terasa. Mungkin karena lariku kini bukan untuk kebugaran fisik.

Lariku kini adalah sebuah usaha untuk melupakan. Melupakan sosokmu yang kini telah membelenggu sebagian hidupku.  Sosokmu yang dulu selalu setia menemaniku di lapangan ini. Menungguku berlatih, dengan sesekali memberikan semangat jika aku mulai lelah dan menyerah.  Tapi hari ini begitu terasa sepi. Tanpa ada kamu disini. Aku begitu merasa sendiri, seperti makhluk asing di dunia ini.

Tak terasa langit semakin penuh dengan jingga. Awan biru mengarak perjalanan pulang kawanan burung pipit. Menuntun pulang ke sarangnya. Aku yang sedari tadi mematung, menelisik cerita kita yang  dulu. Dengan keringat yang mulai mengering menjadi butiran – butiran Kristal garam.

Sore itu aku teringat sosokmu. Sosokmu yang selalu menjadikan setiap senja lebih indah di tempat manapun. Dan harusnya sore ini kamu duduk disini bersamaku. Menungguku berlatih. Kemudian kamu yang mengelap keringatku, dengan diselingi kata – kata bijak ala Mario teguh.

Aku teringat saat pertama kali kita bertemu. Pertemuan kita seperti suatu hal yang begitu kebetulan. Meski aku selalu percaya, bahwa di dunia ini tidak ada hal yang kebetulan. Semua sudah direncakanan oleh Tuhan melalui semesta.

**

Pagi itu adalah hari pertama aku menjadi mahasiswa FPOK. Sekitar empat tahun yang lalu tepatnya. Hari itu aku begitu bingung. Karena aku adalah orang yang baru pertama datang ke Bandung. Apalagi di sebauah kampus yang besarnya luar biasa.

Aku melangkah menuju ruang registrasi. Untuk melakukan daftar ulang sebagai mahasiswa baru. Namun setalah sampai di depan ruang registrasi. Terlihat di papan pengumuman bahwa registrasi baru bisa dilakukan Pukul 01.30. Tepatnya setelah ba’da Dzuhur.

Ku lirik jam tangan di lengan kiriku menunjukan Pukul 10.00. Berarti masih empat jam lagi untuk melakukan registrasi.

Aku terdiam sejenak di depan gedung FPOK. Gedung yang nantinya akan menjadi tempatku menempa ilmu. Tiba – tiba handphoneku bergetar, seperti ada panggilan masuk. Aku langsung berbegas merogo handphoneku di saku celana.

Terlihat  di layar handphone nomer baru yang menelfon . Dan akupun mengangkatnya.  

“Assalamu’alaikum. Maaf ini siapa?

“Walaikumussalam. Ini Rian yah.? Tanya suara dari balik handphone. Yang ternyata seorang perempuan.

“ini memey. Sepupunya mas jani dari Patrol. Mas jani yang memberikan nomor handpohone mas rian. Mas Jani takut kamu kenapa – napa.

“oh memey yah. Terima kasih sebelumnya. Jemput aku dong. Aku ada di depan gedung FPOK nih.

“Yaudah jangan kemana – mana. Nanti memey jemput.

Setelah lima belas menit menunggu. Terlihat dari kejauhan seorang perempuan perlahan mendekat kearahku.

“Rian kan? Ucapnya padaku.

“Kok langsung tau sih. Kan kita belum pernah ketemu sebelumnya.

“Memang. Tapi mas jani ngasih foto kamu lewat Line tadi. Katanya takut salah jemput orang.

Kamupun tersenyum manis padaku waktu itu. Mungkin hanya senyum salam pertemuan antara aku dan kamu saat itu. Tapi aku merasa berbeda setelah bertemu dengan kamu. Seperti ada morfoin yang mengaliri darahku. Tapi entahlah. Aku tidak mau menduga – duga tentangmu.

Saat itu pertemuan kita adalah sajak yang indah, pertemuan kita adalah anugrah semesta dengan indah daunya yang mulai menguning di setiap percakapan kita. Kita mungkin adalah dua orang asing. Namun keakraban kita seperti sepasang kekasih yang baru saja bertemu dari sekian jarak yang membentang.

Kita semakin akrab hari demi hari. Kita semakin mengerti tentang ribuan detik yang telah kita lewati bersama. Kita telah sadar bahwa kita mempunyai rasa dari setiap tawa lepas kita. Namun kita hanya berusaha menyembunyikanya menjadi senyum kecil dan saling memperhatikan antara kita. Hingga kita seperti dua orang yang tidak bisa di pisahkan.

Meski kamu di Ekonomi Syariah dan aku di FPOK. Tapi kita selalu berjalan bersama ketika pulang maupun pergi. Kita saling menunggu satu sama lain antara kita. dan tempat favorit kita adalah lapangan ini. Kau berusaha sabar, setiap kali kau datang menemuiku. Dan aku sedang mengelilingi lapangan ini. Namun kau selalu ada di sudut kursi itu untuk menunguku selsai dari sesi latihan.

Hingga suatu hari. Kita pergi bersama ke alun – alaun kota, untuk merayakan pesta kembang api pergantian Tahun Baru. Malam itu kita sangat bahagia melihat dentuman kembang api, yang membuat langit tak sepi lagi. Langit saat itu  seakan ikut tertawa lepas bersama ribuan manusia di sini. Begitupula kita.

Saat itu kita saling berdekatan. Kamu memagang tanganku erat dan akupun tak mau melepasnya. Perlahan kamu membalikan tubuhmu kearahku, dan berusaha menarik perhatianku untuk saling tatap.

‘riyan.

‘Ia mey. “ aku menjawabnya dengan senyum kecil.

‘Memey ingin rian selalu ada buat memey.

‘Maksudnya mey. “setengah bingung aku menjawabnya

‘Apa rian mau menjadi kekasih memey.? Yang selalu ada buat memey, selalu ada ketika memey kesepian, selalu ada ketika memey ingin bersandar.? Memey serius dengan apa yang memey katakan.

‘ehmm. Gimana ya mey. Apa rian pantas dengan memey.?

Kamupun semakin erat memegang tanganku. Matamu semaki berbinar dan pipimu mulai becek oleh air mata yang tak sanggup kau bendung lagi.

‘Rian juga sayang sama memey. Rian juga cinta sama memey.

Malam itu aku dan kamu menjadi kita. Bukan lagi kesendirian cerita kita pada semesta. Tapi adalah kebersamaan yang selalu kita pahami bersama. Bersama tumbuhnya ketergantungan akan hadir sosok antara kita. Kita menjadi seperti pasangan yang sangat bahagia di bumi sangkuriang ini. Seperti tidak ada orang lain lagi selain kita di alun – alun kota ini. Karena kita merasa bahwa mereka adalah fana dan kita adalah kekal adanya dengan cinta.

***

Sore itu mataku mulai berkaca – kaca di balik senja yang perlahan mulai memudar. Tergantikan titik – titik air mata membasahi pipi, menghujani rerumputan disini.

Terselip sebuah foto di tengah buku diary yang sedari tadi hanya diam menyaksikan luka. Aku menarik foto itu perlahan. Foto itu adalah foto kita dulu di lapangan ini. Saat itu, aku masih penuh dengan keringat dan kemudian kamu  mengelap keringatku dengan tawa kecilmu yang indah.

Namun semuanya tertinggal disana. Tertinggal bersama kenangan, senja dengan meganya. Tangisku semakin menjadi – jadi sore ini, entah mengapa. Mungkin karena kamu sekarang adalah sebuah cerita, karena kamu sekarang hanya sebuah lagu yang menghantarku untuk terlelap dalam duka. 

Mungkin meninggalkanmu bukanlah hal yang menyakitkan. Namun yang menyulitkanku adalah berusaha mencari penggantimu, untuk mengisi ruang itu. Seperti kamu mengisinya dahulu. Dan sekarang senja benar – benar lelah mendengar ceritaku, mendengar lukaku setiap kali ia baru bangun dari tidurnya. Atau senja telah bosan dengan pengaduanku padanya disetiap sabtu sore di lapangan ini. Pergi saja kau senja ke rumahmu kemudian biarkan aku berjumpa gelap. Karena gelap mungkin akan menghapus ingatanku tentangnya.

Setelah sekian kalinya air mataku menetes. Aku ingin mengingatmu untuk yang terakhir, aku ingin mengenangmu di perjalanan ini. Saat dulu diantara kita saling percaya, saling menjaga, saling mengisi satu sama lain.

Namun Tuhan dan semesta selalu mempunyai cerita. Cerita Tuhan dan semesta selalu berbeda dengan apa yang aku harapkan dari sebuah cerita indah bersama memey. Dan nyatanya Tuhan dan semesta selalu memberikan kejutan dalam hubungan kita bukan. Tuhan telah memberikan kejutan padamu dua minggu yang lalu setelah sidang yodisium dilaksanakan. Kejutan yang membuatmu tak bersamaku lagi sampai nanti tuhan mempertemukan kita di surganya.

Mungkin Tuhan terlalu sayang padamu. Dengan memberikan penyakit kangker hati itu. Karena Tuhan selalu tahu bahwa seharusnya kamu memang bersama Tuhan disana. Dan menyisakan aku dan kenangan disini. Biarlah kamu selalu tenang bersama Tuhan. Karena aku yakin jalan Tuhan adalah yang terbaik dari semua keputusan.

Langit kini sudah benar – benar menunjukan kekuatanya pada malam. Dan saat itu aku masih betah disana. Masih terduduk tegak dengan memandangi foto kita dulu, dan sesekali melihat senja yang tertinggal di ujung langit. Namun tiba – tiba handphone ku bergetar tanda pesan masuk. Ternyata pesan itu dari Lalula. Sahabatmu yang selalu setia menghiburku setelah kau pergi.

“Jangan lupa pulang mas. Hari sudah mulai gelap.

Biarkan yang telah pergi menjadi tenang di sana.

Dan jangan lupa mas. Masih ada sisa hidupmu yang bisa kau perbaiki dari sebelumnya. Dan percayalah Tuhan Maha Romantis untuk Hambanya”

Biarkan saja aku disini bersama hadirmu dalam kenangan, dalam bayang, dengan rindu yang membawaku kembali hidup. Karena aku tau kau selalu bersamaku dihati. Sampai kapanpun dan sampai di kehidupan manapun. Dan ijinkanlah aku selalu berdo’a untumu dalam sepertiga malamku.

Tuhan, mungkin aku tak mampu

melihat dzatMu

Namun dari hidupnya

aku mampu mengenalMu

 

Tuhan, Mungkin aku

tak mampu mencintaimu

namun bersamanya,

aku mampu mencintaMu dari cintanya

 

Tuhan, Mungkin aku

 tak mampu merasakan HadirMu

Namun hadirMu

 aku rasakan ketika bersamanya.

 

Tuhan, Mungkin aku

tak mampu memelukmu

Namun ketika aku memeluknya

 aku merasakan Hadirmu di hangatnya

 

Maaf Tuhan,

Cintaku padaMu

hanya mampu

Lewat perantara Hambamu

Yang membuatku

tak mampu

Melawan rindu

 

Komentar