GURUKU ADALAH AYAHKU

 

Hari itu adalah Rabu, tanggal 25 Juli 2007. Langit masih bagitu malu untuk sekedar menyapa dunia, mungkin hanya sekedar “hai” ataupun “selamat pagi” saja. Hari itu jalanan masih terasa sembab dan dingin, mungkin bekas tangis langit malam tadi dan sampai pagi ini aromanya masih begitu terasa pekat menyiasati setiap jengkal di jalanan ini. Terlihat dikejauhan sana lentera – lentera rumah penduduk masih belum bisa melepaskan cintanya pada gelap, rindunya pada sunyi, hingga ia harus mengalah nanti – sampai matahari menyelimuti seisi bumi.

Hari itu adalah hari pertamaku menjadi seorang santri. Adalah seorang pelajar yang bermukim di sebuah pesantren. Itulah title pertamaku untuk melangkah menjejaki dunia yang serba baru dan ilmu pengetahuan tak pernah habis. Namun lepas dari semua itu, tidak pernah membuatku merasa rendah dikalangan teman – teman sebayaku di sekolah umum. Justru aku merasa inilah jalan yang harus aku tempuh dengan sebaik – baiknya jalan sebagai seorang pelajar.

 Asy-syarifiyyah. Itulah nama Pesantren tempat dimana aku menetap, menempa diri, mencari jati diri, menemukan cinta yang sejati;hakiki. Dan tempatnya pun tidak begitu jauh dari Kampung halaman, karena di Kecamatan sebelah saja tempatku belajar.

*

Senja dengan jingganya kini telah bertahta di singgasana langit. Menyeret perjalanan yang tak sempat di tempuh, saat terik bersemayam menguasai hari. Menggiring kaki para kuli angkut barang untuk surut dalam ombak kehidupan, menanggalkan semua jejak yang terasa menyiksa rasa. Aku sangat menikmati lembayungmu, dimana cahayamu yang indah selalu membuat mata ini tak pernah lelah menatap, selalu tak pernah ingin menjaga jarak dan tak pernah mencari apapun yang layak untuk aku pandang sore ini.

Seketika lamunanku tertanggal. Sejenak, aku melirik jam tangan kulit pemberian Almarhum Ayah yang kini melingkar di lengan kiriku. Pukul 04.30 adalah jadwal semua Santri untuk mengikuti pengajian Al-Hadits, yang langsung diajar dan di bimbing oleh Pengasuh Pesantren. Fikirku dalam hati. Mungkin ini adalah pengajian yang begitu penting, yang mana pengajarnya langsung seorang Pengasuh, bukan Ustadz – ustadz yang biasa mengajarkan pelajaran Agama di Pesantren ini. Sejenak aku terdiam dan kembali memunguti lamunan yang sempat aku tanggalkan - tinggalkan sebentar, sembari menunggu sebuah sosok di sebuah senja yang menenangkan ini.

Tiba – tiba lamunanku berhamburan dan berserakan di lantai Aula Pesantren ini. Ketika para Santri berlarian memasuki Aula dan mencari tempat duduk sembari merapihkan diri mempersiapkan segalanya. Suara salampun terdengar dari balik cahaya senja yang saat itu tepat dibalik pintu. “Assalamu’alaikum” ucapnya.

“Namanya Kiai Jumhari.” Ucap sakur yang duduk disebelahku, yang sedari tadi sibuk mencari kitab dari ransel hitamnya dengan wajah yang tertunduk bertanda hormat kepada seorang Guru. “Beliau adalah Pengasuh di Pesantren ini menggantikan Kiai Sepuh yang usianya sudah sangat renta. Namun meskipun beliau sebagai badal  ( adalah pengganti dalam bahasa pesantren ), ilmu agama beliau sangat luar biasa”.

Meskipun terlihat sudah berkepala lima, beliau masih terlihat muda dan segar. Tubuhnya tegap, tinggi, tatapan matanya tajam, nada suaranya jelas ketika beliau menerangkan dan tak lupa pula aura karismatiknya yang begitu besar dari kerutan – kerutan hitam yang mulai nampak jelas di kening beliau.

Begitu terasa menggetarkan hati kami. Saat Beliau mulai menatap kami satu persatu dengan tatapan hikmahnya dan setelah itu kembali menerangkan dengan kalimat – kalimat yang mudah dicerna namun bermakna. Adalah hari yag penuh nikmat keberkahan dari Tuhan semesta alam. Karena senja ini diisi dengan pengajian yang penuh hikmah  dan penuh motivasi hidup yang sangat berharga, dengan penyelsaian dari setiap pertanyaan – pertanyaan yang di ajukan dijawab dengan memuaskan oleh beliau.

“Oh iah kur. Kalau menurut kamu gimana pengajian yang disampaikan Kiai Jumhari barusan? Tanyaku pada sakur yang sedari tadi masih mencatat petuah – petuah beliau yang masih sempat di ingatnya.

Sakur pun menengok kearahku dan menanggalkan bolpoin dan buku sakunya itu di meja panjang yang kami gunakan bersama.

“Kalau menurut aku sih Yan , Pak Jum berbeda dengan Guru – guru yang lain. Seperti ada magnet yang selalu tarik - menarik kalau beliau ada disini dan menyampaikan petuah – petuahnya kepada kita. Seperti hujan yang turun perlahan dikala kemarau melanda, menghujam dan menjadikanya gersang. Kemudian beliau memberikan kesejukan, memberikan hidup lagi, bagi cita – cita yang sempat terhenti. Itulah menurutku Yan.

“Betul juga sih pendapat kamu berusan. Jadi tambah semangat belajar nih” Jawabku.

Percakapan kami pun terpaksa harus dihentikan waktu yang kini telah mengundang gelap untuk sengaja memasuki dunia, memenjarakan waktu, menyekat perkataan demi perkataan yang sempat ingin disampaikan. Namun gelap selalu menyimpan seribu rahasia. Gelap selalu menyimpan banyak pengampunan dari setiap dosa. Gelap selalu menyimpan pengabulan dari setiap harapan – harapan besar dalam sunyinya do’a.

*

Pak Jumhari namanya. Seorang Sunda yang diambil menantu dari Kiai Sepuh di pesantren ini, untuk di nikahkan dengan Putri sulungnya, yakni Nyai Wiwi. Kemudian Pak Jumhari diberikan mandat oleh Kiai Sepuh untuk mengurus sepenuhnya tentang Pesantren.

Ketika hari berlalu menjadi sebuah tayangan rindu dan bulan tenggelam menghilang dipenjarakan tahun. Kemudian tahun bereinkarnasi menjadi windu. Memberikan kisah dan pengalaman dari setiap perjalanan hidup yang kadang indah, kadang luka. Tahun demi tahun berlomba mengganti muka yang baru, berganti menjadi sebuah kebersamaan rindu dan  keakraban dalam setiap canda tawa diantara kita. Tidak pernah lelah dan merasa bosan kau selalu memberikan nasehat dan petuahmu padaku yang awam ini dan jika aku salah melangkah kau selalu memberikan arah yang benar kepadaku.

Tak terasa juga. Aku sudah delapan tahun lebih menjadi muridmu, yang kini masih setia mendengarkan nasehatmu di Aula Pesantren ini.  Meski kini hanya aku yang tersisa dari semua angkatanku. Masih sama seperti dulu. Kau selalu menjadi tempat terakhir dari setiap persoalan hidupku. Meski kini suaramu tak sefasih dulu, sewaktu pertama kali aku berada disini.

Dari sekian lamanya kau menjadi Guruku. Aku sudah menganggapmu sebagai ayahku sendiri. Ayah yang telah mendidikku hingga sampai di titik ini. Tidak ada perbedaan yang cukup banyak dari ayah kandungku yang kini mungkin sedang menyaksikan kita berdua dari alam sana. Mungkin Surga. Harapku. Ayah kandungku mendidiku dari semua keterbatasan. Sedangkan kau Guruku yang kini menjadi Ayahku, mendidikku tanpa batas, dengan ilmu pengetahuan dan pengalaman hidupnya.

Tiada terbalas oleh apapun tentang jerih payahmu menempaku sebagai seorang murid, yang terkadang nakal dan membangkang dari semua perintahmu. Namun kau selalu tersenyum setelah aku berbuat kesalahan dan kembali mengajariku tentang kebenaran. Tiada apapun yang sanggup menebus pengorbananmu dalam menasehatiku setiap waktu, membimbingku dan meluruskan kembali pandanganku yang sempat kacau oleh dunia. Kemudian mengajariku menjadi sebagai seorang manusia yang sempurna.

Di hari itu. Dimana daun – daun mahoni di depan Pesantren mulai menguning dan rapuh terpesona cahaya senja. Kau masih bersamaku disini. Di depan pesantren yang kebetulan menghadap ke arah senja yang indah. Menikmati teh hangat yang kini menjadi tiket kebersamaan kita di sore hari.

Meski status kita ini adalah sebagai guru dan murid, anak dan ayah, pelajar dan pendidik. Namun aku selalu menganggapmu sebagai seseorang yang pantas aku panggil ayah. Dan aku tak mau kau berhenti memberikan arah padaku, menasehatiku selalu dan membimbingku sampai batas akhir dunia ini kalau bisa. Namun aku tahu setelah banyak belajar bersamamu. Tiada kekekalan di dunia ini, keabadian tentang kehidupan. Dan kamu adalah seseorang yang menurutku terbaik dari ribuan terbaik yang pernah menjadi seorang guru.

Dan sampai saat ini, di acara wisuda. Disaat aku memakai Toga peresmianku sebagai seorang yang berhasil menempu pendidikan di Strata Satu. Kau turut ikut membahagiakan acara itu, menemani keberhasilanku. Tak henti – hentinya kau berucap padaku “Akhirnya kau berhasil nak”. Senyum itu adalah senyum yang paling indah yang pernah aku lihat, yang belum pernah aku merasakan tulusnya dan terlihat kau sudah tak mampu membendung air itu, air yang selama ini kau tahan - tahan. Yang membuat matamu sembab dan pipimu becek oleh air mata bahagia itu, atas keberhasilanku hari ini. Hari dimana semua orang merasa bahagia atas keberhasilan anaknya, saudaranya, kekasihnya, temannya dan keluarganya. Dan aku berharap Ayah yang disana juga bisa merasakan kebahagiaan yang sama dengan apa yang aku rasa. Karena aku sudah menemukan seseorang yang mampu membimbingku, mengarahkanku jika salah jalan, membangunkanku jika aku terjatuh di perjalanan. Setelah kepergianmu ayah. Beliau yang paling pantas menggantikan posisimu di dekatku. Karena beliau yang paling mengerti aku sampai saat ini, yang kasih sayangnya begitu terasa seperti kau menyayangiku dahulu, meski dia adalah guruku. Dan dia adalah guruku yang sekaligus menjadi ayahku selama ini, setelah engkau tiada.


Fajriansyah Muhamad

Komentar