JALAN
Ku lihat ibu kini semakin renta gerakanya.
Tidak seperti dahulu yang begitu gesit kesana – kemari mempersiapkan kebutuhan
kami. Kini kerutan – kerutan tanda tua pun mulai terurai dari kening ibunda
yang semakin membesar dan banyak. Matanya yang dulu sigap melihat dan
memandang. Kini terlihat sudah mulai lelah untuk sekedar melirik. Punggungnya
pun sudah membungkuk tak tegar kembali seperti dulu ketika aku masih dalam
gendongan ibu.
Tak tega sekali aku melihat keadaanya. Dan
tak kusanggup lagi aku mendengar suara seraknya yang terdengar ketika
memanggilku. Hatiku bergetar keras ketika setiap ibu memanggilku untuk
mengambilkan sesuatu yang dibutuhknaya. Aku rasa bahwa akulah yang harus
melakukan semua itu. bukan ibu dan kedua adiku yang masih amat kecil.
Tegal taman. Dusun yang paling indah di
belahan bumi manapun menurutku. Dusun yang sangat jauh sekali dari ramainya
kota dan pasar. Dusun ini sangat damai aku rasakan. Kehidupan masyarakatnyapun
yang masih lebih mengepentingkan kebersamaan dan saling bergotong royong dalam hal apapun di setiap kehidapanya tanpa
mengharapkan imbalan apapun seperti di kota sana. Yang setiap hal apapun pasti
lebih mengepentingkan uang dan uang. Mereka tidak pernah mengerti bahwa tidak
semuanya harus dengan uang. Sesuatu akan terasa damai jika semuanya mengikuti
apa yang ada di desa dan adat desa.
Dusun yang jauh dari tekhnologi dan era
perkembangan dunia. Dusun yang alami. Disetiap sepanjang pintu masuk dusun
terbentang hijaunya sawah milik penduduk. Diselingi dengan pepohonan pisang
disetiap pinggiran jalanya dan tidak lupa pula pohon – pohon cemara yang
menjulang tinggipun ikut memperindah pintu masuk dusun ini. Aliran sungai yang
begitu lancer tanpa hambatan apapun ketika melewati irigasi – irigasi dusun.
Membuat ladang dan sawah para petani
semakin subur dan menghasilkan setiap panenya.
Unik sekali dusunku ini kawan. Kami seperti
sebuah pulau dalam peta dunia. Bedanya kalo di peta dunia itu dataran di
kelilingi oleh lautan yang membentang luas. Bahkan lebih banyak lautan dari
pada daratan bumi ini. Dan dusunku persis seperti dunia besar ini. Uniknya
dusunku ini dikelilingi oleh hektaran area persawahan yang hijau dan indah. Dan
diakhri oleh sebuah pantai yang terbilang cukup bagus juga untuk sekedar hiburan para warga.
********
Dusun ku terletak di penghujung Kabupaten
Indramayu Kecamatan Sukra. untuk menuju dusunku harus di tempuh dengan
menggunakan kendaraan roda dua. Karena dari pantura untuk menuju desaku tidak
mungkin bisa di lalui oleh kendaraan roda empat. Karena keadaan jalan yang
sangat kurang dari kata layak untuk menjadi sarana transportasi. Berlumpur,
berlubang, bahkan ada yang miring sebelah jalan di dusunku ini.
Dua puluh ribu rupiah ongkos yang harus di
rogo ketika ingin menuju ke dusunku. Cukup mahal juga tarif yang di berikan
oleh para tukang ojeg ini. Tapi sedikit wajar juga. Karena keadaan jalan yang
jelek dan jarak yang cukup jauh dari jalan pantura. 4 kilo meter lebih jarak
dusunku dengan jalan pantura.
Tegal taman. Adalah dusun ku. Tempat
tinggalku bersama keluarga ini. Bersama ibu dan kedua adiku yang tidak
mungkin untuk membantu semua pekerjaan
ibu. Keluarga yang tanpa kepala keluarga yang sesungguhnya. Karena ayah sudah
dulu di panggil sang pencipta ketika kami masih kecil – kecil. Aku ingat sekali
waktu ayah meniggalkan kami. Kami semuanya tertunduk lemas dan hanya bisa
menerima semua kodrat yang telah di berikan sang pencipta pada keluarga ini.
Ya. Keluarga tanpa ayah. Yang kini
digantikan olehku. Si anak sulung.
Menjadi seorang tulang punggung keluarga bagi
anak usia 20 tahun sangatlah sulit bagiku. Sangat berat punggung ini harus
menerima kenyataan yang begitu pahit aku rasa. Begitu getir aku hisap kehidupan
ini. Kehidupan yang tidak pernah di inginkan oleh mahluk manapun di dunia ini.
Mungkin kecuali hanya orang – orang yang sabar pilihan-Nya.
Terpaksa aku harus putus Sekolah Menengah
Pertama. Keputusan ini sangatlah berat bagiku. Bagi kehidupan dan masa depanku
kelak. Tapi mau bagaimana lagi. Ibu sudah tidak sanggup lagi untuk bekerja
membiayai kehidupan kami. Kehidupan keluarga ini. Tapi setelah aku fikir – fikir
semuanya, ini mungkin yang paling terbaik dari semua jalan. Harus ada yang
berkorban dan merelakan harapan, cita – cita, cinta, kehidupan, dan angan –
angan. Untuk mewujudkan cita – cita dan harapan yang lain. Cita – cita dan
harapan kedua adiku dan harapan ibu agar anaknya bisa sukses semuanya.
*****
Jentera – jentera rumah penduduk pun terlihat
masih menyala dengan ramai dengan gagahnya. Dedaunan pun kini masih terkuncup
oleh embun pagi yang suci dan dingin. Menandakan hari masih belum siap untuk di
mulai. Matahari pun masih tak sanggup untuk menampakan sinarnya yang sangat gagah. Mungkin hanya
rumput yang basah yang hadir menemani langkahku kini.
Fajriansyah Muhamad
Komentar
Posting Komentar