MANUSIA DAN CITA – CITA
Sepasang mata Mampu menerima
kehidupan apapun yang dilihatnya. Ia seakan – akan sebuah jiwa yang sangat
dahaga oleh nikmatnya air sungai surga. Tak pernah kenyang oleh apapun dan tak
pernah menolak oleh apapun yang di pandangnya. Namun hanya sebuah mata dan hati
yang suci yang mampu mengalahkan rasa dahaga itu.
Kadang sebuah cinta yang benar benar tulus
takan pernah bisa mengalahkan segalanya yang ada dalam dunia ini bahkan alam
semesta pun takan mampu membendungnya lagi. Meraka saling mengikat satu sama
lain tanpa beban dan rasa resah sedikitpun. Namun kebencian tidak pernah luput
dari hubungan itu. kebencian adalah sebuah rasa garam yang lezat dalam hiruk
piruknya mengarungi samudra kerinduan dan air mata kebahagiaan.
Cinta adalah sebuah racun kehidupan yang
mematikan. Tapi, bukankah kebencian juga adalah sebuah racun yang sangat
mematikan.?
Fajriansyah Muhamad
*******
Kudengar gemericik sendu suara gerimis pagi
ini. Seakan akan gerimis ini membuat nada – nada yang tidak akan pernah
tertuliskan oleh kata manapun. Tanpa ungkapan apapun dan bahkan tanpa bahasa
apapun untuk menguraikanya.
Aku yang sedari tadi terduduk diatas sofa
panjang di kamar. Seakan akan ingin ikut bernyanyi melalui nada itu. namun,
hanya lamunan dan hayal yang tak pernah pasti yang aku dapat pagi itu. pagi dan
suara itu sekan – akan mengingtkan ku dengan apa yang pernah terjadi dulu.
Kejadian yang takan pernah aku lupakan sampai pagi ini.
Aku mencoba beranjak dari sofa untuk sekedar
melihat nyanyian apa sebenarnya. Apakah hanya sebuah bayangan atau ngiangan pendengaranku saja.
Atau apakah ini benar nyanyian kesedihan untuk pagi ini. Pagi pertama ku menjadi
tulang punggung keluarga. Entah lah. Aku
tidak pernah mengerti sedikitpun dengan keadaan ini. Keadaan yang seakan – akan
setiap paginya malah makin kelam, suram, gelap, tanpa sebercak cahaya
sedikitpun masuk dalam duniaku.
Cahaya yang selalu aku harapkan dan selalu
aku inginkan kedatanganya semenjak dahulu. Cahaya yang selalu menerangiku dulu
meski hanya seperti sebatang puntung rokok di gelapnya ruangan kosong. Tapi
cahaya itu sangatlah berarti bagiku. Bagi kehidupanku. Bagi semua mimpi –
mimpiku yang pernah aku rancang dulu. atauakah mungkin aku hanyalah seperti sebuah planet yang dari orbit yang paling jauh. Yang mungkin
hanya sedikit sekali berkesempatan menerima sinar itu. bahkan mungkin tidak
akan pernah menerimanya sampai bahkan seribu tahun pun tidak akan pernah
mendapatkanya.
Komentar
Posting Komentar