Seorang manusia
Ada
seorang manusia yang mencoba untuk tetap tersenyum dari lukanya yang kian
mengoreng disetiap harinya. Dia mencoba menutup diri dari ramainya cakap
manusia.
Ada
seorang manusia yang mencoba untuk tetap tegar dengan semua rindu yang mengurungnya
setiap hari, disetiap lamunan – lamunanya di kala senja berkuasa mengikis hari.
Ada
seorang manusia yang mencoba untuk tetap
mampu menyimpan rindunya, meski hati kadang
tak mampu menahan dan menampung rindu itu di kolam rasanya. Karena tanpa
sama sekali pertemuan, tanpa sama sekali sapaan atahupun sebuah sosok yang
membuatnya tegar kembali.
Ada
seorang manusia yang mencoba untuk tetap teguh dengan komitmennya tentang jarak
yang kian amat menyita kebersamaan,
kemersraannya dulu dengan kekasihnya. Kemudian dia memunguti satu persatu rasa
yang tercecer di jalan yang mengenang dirinya dengan kekasihnya. Dan
mengumpulkan kembali dalam satu wadah yaitu atas nama cinta.
Ada
seorang manusia yang memilih menangis dengan buku Diary- nya setiap malam, yang
kini telah ia pilih menjadi sahabat
terbaik dan yang paling mengerti isi hati dan keinginannya dengan cinta. Ia
memilih menyendiri di sebuah kamar yang pengap. Tanpa ruang, tanpa cahaya. Ia
hanya ingin sunyi menjadi kekasihnya saat ini. Untuk saat ini ia hanya ingin
menanti saja. Entah sampai kapan, ia tidak pernah mau perduli lagi lamanya. Ia
hanya ingin mendengarkan kabar tentang kekasih pujaanya setiap waktu. Meski
dari surel, status media social, atahupun hanya kabar burung yang berterbangan
melewati telinganya satu persatu. Meski terkadang kabar itu adalah yang tidak
pernah ia inginkan. Tentang dia yang sudah melupakan kita.
Namun
manusia ini tidak pernah percaya apapun tentang kekasih yang mulai
menduakannya. Ia hanya yakin satu hal. Bahwa cintanya takan pernah luntur
sekalipun dengan apapun yang terjadi. Sampai datang hari itu. Hari dimana ia
berjumpa dengan kekasih yang selama ini ia nanti – nantikan, ia rindukan.
Disebuah taman, tempat biasa mereka bertemu sebelumnya.
Sore itu
ia mengharapkan sebuah ucapan manis
atahupun kata kerinduan yang keluar dari mulut indah kekasihnya. Kekasihnyapun
tersenyum manis ketika hendak menghampiri dan duduk disebelahnya. Dan ia tidak
mau kalah dengan apa yang disampaikan atas nama kerinduan itu.
Namun hari
itu senja tak lagi menjadi pemandangan yang indah di taman. Entah mengapa ia
merasakan ada hal yang berbeda dari kekasihnya saat ini. Namun ia hanya bisa
berperasangka baik atas apa yang ia rasakan. Dan nyata sekali bahwa harapan
tidak pernah bersanding baik dengan takdir.
Hari itu kekasihnya berucap. “Aku sudah tidak
bisa lagi bersamamu. Maaf telah membuatmu menunggu sampai hari ini. Dan hari
ini aku telah melukaimu atas nama perpisahan. Bukan masalah apa – apa. Namun
aku lebih memilih cita –citaku dari pada kamu. Aku takut kamu tak pernah sabar
dengan apa yang kamu tunggu.”
Lukapun
semakin dalam dari rindu yang belum sempat direbahkan pada tempatnya, dari
kasih yang belum sempat di tempatkan pada tempatnya. Sore itu dengan lukanya ia
mengerti bahwa cinta tak pernah abadi dengan banyaknya kebersamaan yang kita
lalui, banyaknya kenangan yang sudah kita buat bersama, banyaknya janji yang
telah kita ikat berdua. Namun tetap saja cinta hanyalah milik Tuhan semata.
Tuhan bebas memilih dan memilah tentang siapa yang di pertahankan bersama cinta
dan tentang siapa yang akan di pisahkan dengan cinta bersama luka. Untuk selalu
belajar bahwa cinta selalu ada meski luka dahulu yang menemani hidupnya.
Komentar
Posting Komentar