Postingan

06 Desaember 2016

Hari telah menggelinding begitu cepat, memperpendek kebersamaan kita, mengharuskan kita tunduk pada sebuah waktu yang beneranya diam. Aku memandangi gelapnya malam ini, seakan akan menerawang jauh diantara kelap-kelip bintang yang indah, mencoba terbang kembali pada maal lalu. Barangkali cepatnya masa ada sesuatu yang tertinggal di masa lalu.  Kita menari dengan semua nada itu dan drama itu, namun kita seringkali tidak mengerti menari untuk apa dan dengan siapa serta tentang apa arti menari ini.Kita seringkali terjebak diantara ramainya tawa orang banyak, diantara sajak-sajak perasaan yang tak kunjung dibaca. Cinta menafsirkan berbagai bahasa yangsulit untuk ita terjemahkan dalam bahasa formal. Bahasa cinta adalah bahasa perasaan.

JATUH KARENA CINTA

 Seperti jarak antara waktu dan dunia ini sejengkal jari. Membasahi jiwa-jiwa yang gersang dan hampa akar berkah. Menghalangiku untuk mencapai nikmat dan ridho Tuhanku. Saat itu akau merasaka bahwa ap ayang dinamakan jatuh karena cinta. Bukan jatuh cinta? jatuh cinta dan sayang sangatlah indah dirasakan. namun yang paling menyakitkan itu adalah rasa kehilangan. kehilangan dengan apa yang perrnah dimiliki bahkan yang paling berharga adalah sebuah hati yang pergi. mungkin aku hanyalah serpihan -serpihan debu kala itu, yang tertiup angin. namun sebenarnya diriku tidak pernah pergi kemanapun, aku hanya jalan di tempat semula mennati dirimu kembali memegangi jari-jemariku ini. aku fikir ini adalah jalan yang sangat bodoh, meski jalan ini sama dan relnya pun tidak ada yang pernah berubah sama sekali. jiwaku dna jiwamu kini bersebrangan. duri tajam, ranting, dan kerikil bertebaran di jalan yang aku lalui. tidak lagi seperti dulu, bahwa aku pernah melalui jalan ini bersamamu. Aku mencoba b...

JALAN

  Ku lihat ibu kini semakin renta gerakanya. Tidak seperti dahulu yang begitu gesit kesana – kemari mempersiapkan kebutuhan kami. Kini kerutan – kerutan tanda tua pun mulai terurai dari kening ibunda yang semakin membesar dan banyak. Matanya yang dulu sigap melihat dan memandang. Kini terlihat sudah mulai lelah untuk sekedar melirik. Punggungnya pun sudah membungkuk tak tegar kembali seperti dulu ketika aku masih dalam gendongan ibu. Tak tega sekali aku melihat keadaanya. Dan tak kusanggup lagi aku mendengar suara seraknya yang terdengar ketika memanggilku. Hatiku bergetar keras ketika setiap ibu memanggilku untuk mengambilkan sesuatu yang dibutuhknaya. Aku rasa bahwa akulah yang harus melakukan semua itu. bukan ibu dan kedua adiku yang masih amat kecil. Tegal taman. Dusun yang paling indah di belahan bumi manapun menurutku. Dusun yang sangat jauh sekali dari ramainya kota dan pasar. Dusun ini sangat damai aku rasakan. Kehidupan masyarakatnyapun yang masih lebih mengepentingkan...

MANUSIA DAN CITA – CITA

  Sepasang mata Mampu menerima kehidupan apapun yang dilihatnya. Ia seakan – akan sebuah jiwa yang sangat dahaga oleh nikmatnya air sungai surga. Tak pernah kenyang oleh apapun dan tak pernah menolak oleh apapun yang di pandangnya. Namun hanya sebuah mata dan hati yang suci yang mampu mengalahkan rasa dahaga itu. Kadang sebuah cinta yang benar benar tulus takan pernah bisa mengalahkan segalanya yang ada dalam dunia ini bahkan alam semesta pun takan mampu membendungnya lagi. Meraka saling mengikat satu sama lain tanpa beban dan rasa resah sedikitpun. Namun kebencian tidak pernah luput dari hubungan itu. kebencian adalah sebuah rasa garam yang lezat dalam hiruk piruknya mengarungi samudra kerinduan dan air mata kebahagiaan. Cinta adalah sebuah racun kehidupan yang mematikan. Tapi, bukankah kebencian juga adalah sebuah racun yang sangat mematikan.? Fajriansyah Muhamad   ******* Kudengar gemericik sendu suara gerimis pagi ini. Seakan akan gerimis ini membuat nada – nada ...

Seorang manusia

  Ada seorang manusia yang mencoba untuk tetap tersenyum dari lukanya yang kian mengoreng disetiap harinya. Dia mencoba menutup diri dari ramainya cakap manusia. Ada seorang manusia yang mencoba untuk tetap tegar dengan semua rindu yang mengurungnya setiap hari, disetiap lamunan – lamunanya di kala senja berkuasa mengikis hari. Ada seorang manusia yang   mencoba untuk tetap mampu menyimpan rindunya, meski hati kadang   tak mampu menahan dan menampung rindu itu di kolam rasanya. Karena tanpa sama sekali pertemuan, tanpa sama sekali sapaan atahupun sebuah sosok yang membuatnya tegar kembali. Ada seorang manusia yang mencoba untuk tetap teguh dengan komitmennya tentang jarak yang kian amat menyita   kebersamaan, kemersraannya dulu dengan kekasihnya. Kemudian dia memunguti satu persatu rasa yang tercecer di jalan yang mengenang dirinya dengan kekasihnya. Dan mengumpulkan kembali dalam satu wadah yaitu atas nama cinta. Ada seorang manusia yang memilih menangis den...

GURUKU ADALAH AYAHKU

  Hari itu adalah Rabu, tanggal 25 Juli 2007. Langit masih bagitu malu untuk sekedar menyapa dunia, mungkin hanya sekedar “hai” ataupun “selamat pagi” saja. Hari itu jalanan masih terasa sembab dan dingin, mungkin bekas tangis langit malam tadi dan sampai pagi ini aromanya masih begitu terasa pekat menyiasati setiap jengkal di jalanan ini. Terlihat dikejauhan sana lentera – lentera rumah penduduk masih belum bisa melepaskan cintanya pada gelap, rindunya pada sunyi, hingga ia harus mengalah nanti – sampai matahari menyelimuti seisi bumi. Hari itu adalah hari pertamaku menjadi seorang santri. Adalah seorang pelajar yang bermukim di sebuah pesantren. Itulah title pertamaku untuk melangkah menjejaki dunia yang serba baru dan ilmu pengetahuan tak pernah habis. Namun lepas dari semua itu, tidak pernah membuatku merasa rendah dikalangan teman – teman sebayaku di sekolah umum. Justru aku merasa inilah jalan yang harus aku tempuh dengan sebaik – baiknya jalan sebagai seorang pelajar. ...

Fatamorgana Senja di UPI Bandung

  Judul Cerpen                : Fatamorgana Senja di UPI Bandung Tempat                        : Bandung, 11 April 2017 Penulis                         : Fajriansyah Muhamad Tokoh Yang dikenang : Devi Yunita, Senja, Jalan Sepi, Wisuda, Aku yang Merindu,Kursi dan Lapangan tempat berlatih   Siang itu di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, di jalan Setiabudi No.229 Bandung. Siang itu UPI Terlihat begitu lenggang, tidak seperti hari – hari biasanya. Mungkin karena besok lusa semua fakultas di UPI akan melaksanakan Wisuda   Pelepasan Mahasiswa Tingkat Akhir. Lalu – lalang para Mahasiswa tidak seperti biasanya.   Hanya satu- dua mahasiswa yang terlihat sibuk membawa...